SALAT SUNNAH



sumber; www.masbadar.com

Shalat sunah yaitu shalat yang hukum pelaksanaannya sunah (dianjurkan). Apabila dilaksanakan Allah memberikan pahala dan keutamaan khusus melebihi orang Islam yang tidak melaksanakan shalat sunah.
Di antara jenis shalat sunah terdapat shalat sunah yang dapat dilaksanakan secara berjamaah, munfarid, dan ada yang dilaksanakan berjamaah maupun munfarid. Untuk mengenal beberapa contoh shalat sunah jamaah dan munfarid, perhatikan diagram berikut !
Jenis shalat sunah yang bisa diamalkan oleh umat Islam cukup banyak bukan? Hal ini bukan untuk memberatkan umat Islam, akan tetapi sangat bermanfaat sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT sedekat-dekatnya. Dan sebagai bekal kamu dalam menambah amalan shalat sunah, berikut akan diuraikan ketentuan dan tata cara beberapa jenis shalat sunah jamaah dan munfarid.


A.      SHALAT SUNAH BERJAMAAH

Shalat Sunat ‘idain

Saat hari raya Idul Fitri tiba umat Islam laki-laki, perempuan, anak-anak-anak dan orang dewasa berbondong-bondong untuk melaksanakan shalat ‘Idul Fitri kemudian saling melakukan silaturrahmi dan bermaaf-maafan. Demikian juga saat hari raya Idul Adha (Idul Qurban), umat Islam juga melaksanakan shalat Id kemudian melakukan ibadah qurban. Karena dalam satu tahun umat Islam melaksanakan dua shalat Id, maka disebut shalat ‘idain yang artinya dua shalat Id, yakni Idul Fitri dan Idul Adha.

Ketentuan Shalat ‘idain

Shalat Id adalah shalat yang dilakukan pada waktu hari raya, karena dalam tradisi Islam terdapat dua hari raya, yakni Idul Fitri dan Idul Adha maka dalam satu tahun terdapat dua shalat Id. Dalam bahasa Arab ‘idain berarti dua shalat Id.
Hukum melaksanakan shalat ‘idain adalah sunah muakkad (sangat dianjurkan) karena Rasulullah saw selalu melakukan shalat ‘idain ini selama hidupnya.
Firman Allah SWT :
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Artinya : “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni`mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.” (QS. Al Kautsar : 1-2)
Bahkan Rasulullah saw. memerintahkan agar seuruh kaum muslimin baik laki-laki, perempuan, anak-anak, dan dewasa untuk keluar dari rumah melakukan shalat Id. Para wanita yang sedang haid pun  diperintahkan untuk menuju tempat shalat Id untuk mendengarkan khutbah tapi tidak boleh melakukan shalat.
Perhatikan sabda Rasulullah saw. berikut ini :
اَمَرَنَا النَّبِيُّ e  اَنْ نُخْرِجَ فِي الْعِيْدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُوْرِ وَاَمَرَ الْحُيَّضَ اَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِيْنَ (رواه البخارى ومسلم)
Artinya : “Kami telah diperintahkan oleh Nabi saw. untuk keluar pada hari raya. Begitu pula anak-anak, perempuan, gadis-gadis pingitan, dan diperintahkan juga gadis-gadis yang sedang haid diperintahkan supaya keluar pada hari raya dan memisahkan diri dari tempat shalat kaum muslimin”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Waktu melaksanakan shalat ‘idain adalah mulai terbit matahari sampai tergelincirnya matahari menjelang waktu zuhur pada hari raya tersebut. Shalat Idul Fitri dilaksanakan pada tanggal 1 Syawal sedangkan shalat Idul Adha dilaksanakan tanggal 10 Dzulhijjah.
Tempat pelaksanaan shalat ‘idain adalah di masjid atau di tempat yang lapang. Allamah Ibnu Qayyim menjelasan bahwa Rasulullah saw. melakukan shalat dua hari raya di suatu tempat yang lapang di dekat pintu gerbang menuju Madinah, Beliau shalat ‘idain di masjid ketika hujan.

Tata Cara Shalat ‘idain

Secara garis besar, tata cara pelaksanaan shalat ‘idain adalah sebagai berikut :

1.         Dilaksanakan secara berjamaah
2.         Tidak didahului azan dan iqamat
لَمْ يَكُنْ يُؤَذَّنُ يَوْمُ الْفِطْرِ وَلاَ يَوْمَ اْلأَضْحَى وَلاَ إِقَامَةَ (رواه البخارى ومسلم)
Artinya : “Tidak ada azan bagi sembahyang Hari Raya Fitrah (Aidilfitri) dan sembahyang Hari Raya Korban (Aidiladha). jga tiada iqamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam pelaksanaan shalat ‘idain tidak disunahkan didahului azan dan iqamat, yang disunahkan adalah salah seorang yang biasanya disebut bilal menyerukan lafaz :
اَلصَّلاَةَ جَامِعَةً
“Mari kita melaksanakan shalat”

3.         Jumlah rakaatnya adalah 2 rakaat
4.         Membaca takbir tujuh kali pada rakaat pertama, dan takbir lima kali pada rakaat yang kedua.

Takbir tujuh kali dalam rakaat yang pertama tersebut tidak termasuk takbiratul ihram. Demikian juga takbir lima kali dalam rakaat yang kedua tidak termasuk takbir intiqal saat berdiri dari sujud.
Takbir tujuh kali pada rakaat yang pertama dibaca setelah membaca doa iftitah, sedangkan takbir lima kali dalam rakaat kedua dibaca ketika sudah berdiri sempurna pada rakaat yang kedua sebelum imam membaca surat Al Fatihah.
Di sela-sela takbir tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua tersebut disunahkan untuk membaca lafaz :
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ ِللهِ وَلاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ
“Mahasuci Allah SWT, segala puji bagi Allah , tiada Tuhan selain Allah SWT, dan Allah Mahabesar”

5.         Imam mengeraskan bacaan (jahran)
6.         Setelah shalat Id dilanjutkan dengan khutbah

Disamping tata cara di atas, dalam pelaksanaan shalat ‘idain juga dianjurkan (disunahkan) untuk melakukan hal-hal sebagai berikut :

1.         Imam membaca surat Qaf pada rakaat pertama dan surat Al Qamar pada rakaat kedua, atau membaca surat Al A’la pada rakaat pertama dan surat Al Ghasyiyah pada rakaat kedua.
2.         Mandi dan berhias memakai pakaian yang bagus.
3.         Disunahkan makan terlebih dahulu sebelum berangkat melakukan shalat Idl Fitri, sebaliknya dalam shalat Idul Adha disunahkan makan sesudah shalat Idul Adha.
4.         Memperbanyak membaca dan mengumandangkan takbir dan tahmid pada waktu hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha.

Panduan Praktek :
1.         Salah seorang siswa yang ditunjuk menjadi bilal menyerukan  اَلصَّلاَةَ جَامِعَةً  pertanda shalat Id segera dimulai
2.         Salah seorang siswa yang ditunjuk menjadi imam menempatkan posisi sebagai imam
3.         Membaca niat
Bila diucapkan bacaan niatnya adalah :

اُصَلِّي سُنَّةً لِعِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ ِللهِ تَعَالى
“Saya berniat shalat Idul Fitri dua rakaat karena Allah SWT “
اُصَلِّي سُنَّةً لِعِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ ِللهِ تَعَالى
“Saya berniat shalat Idul Fitri dua rakaat karena Allah SWT “
4.         Membaca doa iftitah
5.         Membaca takbir tujuh kali
6.         Imam membaca surat Al Fatihah dengan suara keras (jahran) dilanjutkan membaca salah satu surat dalam Al Quran
7.         Rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, sujud yang kedua, duduk sejenak, dan berdiri lagi. (doa yang dibaca dalam setiap gerakan sama dengan shalat yang lain)
8.         Pada waktu berdiri rakaat kedua membaca takbir lima kali
9.         Imam membaca surat Al Fatihah dengan suara keras (jahran) dilanjutkan membaca salah satu surat dalam Al Quran
10.     Rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, sujud yang kedua, duduk sejenak, dan berdiri lagi. (doa yang dibaca dalam setiap gerakan sama dengan shalat yang lain)
11.     Salam
12.     Setelah selesai dilanjutkan dengan khutbah Idul Fitri/idul Adha

B.      SHALAT SUNAH MUNFARID

1.        Shalat Tahiyatul Masjid

Pengertian Shalat Tahiyatul Masjid

Secara bahasa tahiyatul masjid berarti menghormati masjid. Sedangkan shalat tahiyatul masjid adalah shalat dua rakaat yang dilaksanakan sesaat setelah kita memasuki masjid.

Hukumnya

Hukum melaksanakannya adalah sunah, sebagaimana hadis Rasulullah SAW :
عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ‏e‏  إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ ‏يَجْلِسْ حَتّى يُصَلِّيْ رَكْعَتَيْنِ (رواه البخارى ومسلم)‏
Artinya :“Dari Abu Qatadah, Rasulullah SAW bersabda : apabila salah seorang di antara kamu masuk ke masjid maka janganlah duduk sebelum shalat (tahiyat masjid) dua rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Tata Cara Pelaksanaannya
Tata cara pelaksanaan shalat tahiyatul masjid adalah sebagai berikut :
  • Jumlah rakaatnya hanya 2 rakaat.
  • Dilaksanakan secara munfarid (sendirian).
  • Waktunya setiap saat memasuki masjid, baik untuk melaksanakan shalat fardu maupun ketika akan beri’tikaf.

Panduan praktek shalat tahiyatul masjid

1. Berniat shalat Tahiyatul Masjid
Bacaan niatnya apabila diucapkan adalah :
أُصَلِّي سُنَّةً تَحِيَّةَ الْمَسْجِدِ رَكْعَتَيْنِ للهِ تَعَالى
“Saya berniat shalat tahiyat masjid dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
2. Takbiratul ihram
3. Shalat dua rakaat seperti biasa.
4. Salam.

2.        Salat Istikharah

1.        Pengertian Salat Istikharah

Secara bahasa, istikharah berarti mohon dipilihkan. Jadi salat istikharah mengandung pengertian melaksanakan salat sunah dua rakaat dengan maksud untuk memohon petunjuk dari Allah SWT dalam menentukan pilihan terbaik di antara dua pilihan atau lebih.
Suatu saat kita dihadapkan pada dua atau lebih pilihan yang sama-sama baik dan sulit menentukan mana yang terbaik, padahal menyangkut persoalan yang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan kita di masa yang akan datang seperti, memilih sekolah, pekerjaan, jodoh, dan yang lainnya. Oleh karena itu sebagai orang yang beriman kita harus yakin bahwa hanya Allah SWT yang paling mengetahui persis mana yang terbaik di antar sekian plihan itu. Kamu masih ingat kan, bahwa Allah SWT mempunyai sifat wajib ilmu dan aliman yang maksudnya Maha Mengetahui. Jadi Allah SWT merupakan Dzat yang mengetahui segala sesuau yang telah terjadi maupun yang akan terjadi.
Untuk lebih jelasnya simaklah penjelasan mengenai salat istikharah ini, bila suatu saat kamu menemui kesulitan dalam menentukan pilihan maka lakukan salat istikharah untuk memohon petunjuk dari Allah SWT,  pilihan mana yang terbaik.

2.        Hukumnya

Hukum melaksanakannya adalah sunah, sebagaimana hadis Rasulullah SAW :
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يُعَلِّمُنَا اْلإِسْتِخَارَةَ فِي اْلأُمُوْرِ يَقُوْلُ اِذَا هَمَّ اَحَدُكُمْ بِاْلاَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ (رواه البخارى)
Artinya :“Rasulullah s.a.w. mengajarkan kepada kami untuk meminta petunjuk dalam beberapa erkara yang penting. Beliau berkata, “Apabila salah seorang di antara kamu menghadapi suatu perkara hendaklah ia salat dua rakaat.” (HR. Bukhari)
3.        Tata Cara Pelaksanaannya
Tata cara pelaksanaan salat istikharah adalah sebagai berikut :
a.    Jumlah rakaatnya hanya 2 rakaat.
b.   Dilaksanakan secara munfarid (sendirian).
c.    Waktunya pagi, siang, atau malam hari.

Panduan Praktek Shalat Istikharah

1.        Berniat salat Istikharah
                 ¨   Bacaan niatnya apabila diucapkan adalah :
أُصَلِّي سُنَّةَ اْلإِسْتِخَارَةِ رَكْعَتَيْنِ للهِ تَعَالى
“Saya berniat salat istikharah dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
2.        Takbiratul ihram
3.        Salat dua rakaat seperti biasa.
4.        Salam.
Dilanjutkan dengan membaca doa salat istikharah :
اَللّهُمَّ إِنِّيْ اَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ , وَاَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَاَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ اَقْدِرُ , وَتَعْلَمُ وَلاَ اَعْلَمُ , وَاَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ , اَللّهُمَّ اِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ اَنَّ هذَ اْلاَمْرَ خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ اَمْرِيْ فَاقْدُرْهُ لِيْ وَيَسِّرْهُ لِيْ ثُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْهِ وَاِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ اَنَّ هذَ اْلاَمْرِ شَرٌّ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ اَمْرِيْ , فَاصْرِفْهُ عَنِّيْ , وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيْ خَيْرِ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ ارْضِنِيْ بِهِ
Artinya : “Ya Allah hamba mohon memilihkan mana yang baik menurut Engkau ya Allah. Dan hamba mohon Tuhan memberikan kepastian dengan ketentuanMu dan hamba mohon dengan kemurahanMu yang besar dan agung, karena sesungguhnya Tuhan yang berkuasa. Sedang hamba tidak tahu dan Tuhanlah yang maha mengetahui bahwa persoalan ini baik bagiku dalam agamaku dan kehidupanku, dan baik pula akibatnya bagiku, maka berikanlah perkara ini kepadaku dan mudahkanlah ia bagiku, kemudian berikanlah keberkahan di dalamnya, Ya Allah jika Engkau mengetahui bahwa jika hal ini tidak baik bagiku bagi agamaku dan kehidupanku, dan tidak baik akibatnya bagiku maka jauhkanlah hal ini dariku, dan jauhkanlah aku darinya. Dan berilah kebaikan di mana saja aku berada, dan jadikanlah aku orang yang rela atas anugerahMu.”

Di antara jenis shalat sunah adalah shalat sunah rawatib dan ‘idain. Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai ketentuan-ketentuan shalat rawatib dan ‘idain beserta tata cara melaksanakannya.

C.      SHALAT SUNAH BERJAMAAH ATAU MUNFARID

1.        Shalat Tarawih

Pengertian Shalat Tarawih

Shalat tarawih adalah shalat sunah yang dilaksanakan khusus pada malam hari bulan Ramadhan. Shalat tarawih merupakan amalan sunah pada bulan Ramadhan di samping ibadah-ibadah lain seperti memperbanyak tadarus Al Quran, berzikir, berdoa, mendalami ilmu agama dengan mengikuti pesantren kilat, dan sebagainya. Kegiatan tersebut bertujuan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Hukum Shalat Tarawih

Hukum melaksanakannya adalah sunah muakkad, sebagaimana hadis Rasulullah SAW :
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ‏e‏  مَنْ قَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانًا وَاحْتِسَاباً ‏غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (رواه البخارى ومسلم)‏
Artinya :“Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda : Barangsiapa yang melaksanakan shalat pada malam hari di bulan Ramadhan dengan dilandasi iman dan semata-mata mengharap ridha Allah SWT maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bilangan rakaat Shalat Tarawih

Ada perbedaan pendapat mengenai jumlah rakaat shalat Tarawih di kalangan umat Islam. Akan tetapi, perbedaan tersebut tidak penting dan tidak perlu diperdebatkan. Hal yang penting adalah bagaimana shalat Tarawih tetap dilaksanakan umat Islam. Perbedaan yang dimaksud sebagai berikut :

  • Delapan rakaat ditambah Witir

Pendapat ini diambil dari keterangan bahwa Rasulullah s.a.w shalat Tarawih bersama para sahabat di masjid tiga kali selama hidupnya. Sesudah itu beliau tidak melakukan lagi secara berjamaah di masjid tetapi melaksanakannya di rumah. Rasulullah s.a.w  khawatir apabila suatu saat nanti shalat tarawih dianggap ibadah wajib. Jumlah rakaat yang dilakukan bersama sahabat di masjid tersebut adalah delapan rakaat ditambah Witir. Keterangaan ini berdasarkan pada hadits berikut : 
عَنْ جَابِرٍ اَنَّهُ ‏e‏  صَلَّى بِهِمْ ثَمَانَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ اَوْتَرَ (اخرجه ابن حبان)‏
Artinya : “Diriwayatkan dari Jabir sesungguhnya Rasulullah s.a.w shalat bersama-sama mereka delapan rakaat kemudian beliau shalat witir”. (HR. Ibnu Hibban)

  • Dua puluh rakaat ditambah Witir

Mengenai jumlah rakaat shalat tarawih yang 20 rakaat dilanjutkan dengan witir dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab dan diikuti oleh para sahabat yang lain. Tentang jumlah rakaat yang dilakukan oleh Umar bin Khattab ini tidak pernah dipermasalahkan oleh para sahabat saat itu. Jadi, sampai sekarang pun umat Islam ada yang mengikutinya.

  • Tiga puluh enam rakaat ditambah Witir

Mengenai jumlah rakaat shalat tarawih 36 rakaat dilanjutkan dengan witir dilakukan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang merupakan salah satu Khalifah Bani Umayyah.

Dari ketiga pendapat di atas menunjukkan bahwa perbedaan rakaat dalam pelaksanaan shalat tarawih di kalangan umat merupakan sesuatu yang tidak perlu dipermasalahkan. Apalagi sampai terjadi pertikaian hanya karena perbedaan ini. Padahal sejak dahulu perbedaan ini telah ada dan tidak timbul masalah. Yang terpenting adalah umat Islam dapat melaksanakan shalat tarawih dengan baik. Sedangkan berapa jumlah rakaatnya terserah kepada masing-masing sesuai dengan pengetahuan dan keyakinannya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT di bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Tata Cara Pelaksanaan Shalat Tarawih

Tata cara pelaksanaan shalat tarawih sebagai berikut :
a.          Waktu pelaksanaannya setelah shalat isya sampai dengan fajar sidiq ‎‎(menjelang waktu subuh).
b.         Diutamakan secara berjamaah tetapi boleh juga dilaksanakan sendirian ‎‎(munfarid)
c.          Lebih utama setiap dua rakaat salam. Namun, apabila dilaksanakan empat rakaat tidak perlu ada tasyahud awal supaya tidak menyerupai shalat fardu.

Panduan praktek shalat tarawih

1. Berniat shalat tarawih
Bacaan niatnya apabila diucapkan adalah :
أُصَلِّي سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ للهِ تَعَالى‏
“Saya berniat shalat tarawih dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
2. Takbiratul ihram
3. Shalat dua rakaat seperti biasa.
4. Salam.

2.        Shalat Witir

Pengertian Shalat Witir

Secara bahasa witir berarti ganjil. Sehingga shalat witir adalah shalat yang jumlah bilangan rakaatnya ganjil. Paling sedikit satu rakaat dan paling banyak 11 rakaat. Shalat witir tidak hanya dilakukan setelah shalat tarawih di bulan Ramadhan. Namun, pada malam hari di luar bulan Ramadhan umat Islam pun dianjurkan untuk melaksanakan shalat witir sebagai penutup shalat-shalat sunah malam hari.

Hukum Shalat Witir

Hukum melaksanakannya adalah sunah muakkad, sebagaimana hadis Rasulullah s.a.w :
عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : اَلْوِتْرُ لَيْسَ بِحَتْمٍ كَهَيْئَةِ الْمَكْتُوْبَةِ وَلكِنَّهُ ‏سُنَّةً سَنَّهَا رَسُوْلُ اللهِ ‏e  (رواه احمد والنسائ والترمذ)‏
Artinya :“Dari Ali r.a., Witir itu bukan keharusan seperti shalat fardu, tapi merupakan sunah yang dibiasakan oleh Rasulullah s.a.w.” (HR. Ahmad, Nasa’i, dan Tirmidzi)

Tata Cara Pelaksanaan Shalat Witir

Tata cara pelaksanaan shalat witir sebagai berikut :
a.          waktunya pada malam hari setelah shalat isya’
b.         dilaksanakan secara berjamaah atau sendirian (munfarid)
c.          jumlah rakaatnya ganjil
Dalam pelaksanaannya ada dua macam niat, yakni niat untuk shalat 2 rakaat dan ditutup dengan niat untuk shalat 1 rakaat.

Panduan praktek shalat witir

1. Berniat shalat witir 2 atau 1 rakaat
Bacaan niatnya apabila diucapkan adalah :
أُصَلِّي سُنَّةَ الْوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ للهِ تَعَالى‏
“Saya berniat shalat witir dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
أُصَلِّي سُنَّةً رَكْعَةَ الْوِتْرِ للهِ تَعَالى‏
“Saya berniat shalat satu rakaat witir karena Allah Ta’ala.”

2. Takbiratul ihram
3. Shalat 2 rakaat atau 1 rakaat seperti biasa.
4. Salam.

3.        Shalat Dhuha

Pengertian Salat Dhuha

Menurut bahasa dhuha berarti pagi hari. Sehingga salat dhuha adalah salat sunah yang dilaksanakan pada waktu pagi hari, mulai dari saat memutihnya cahaya matahari pagi sampai sebelum waktu istiwa’  (siang hari saat matahari tepat arahnya di atas kepala). Jadi, kira-kira mulai pukul 07.00 pagi sampai pukul ‎‎11.00 siang.
Waktu istiwa’ adalah saat matahari berada tepat di atas kepala, sebelum masuk waktu dhuhur.

Hukumnya

Hukum melaksanakannya adalah sunah, sebagaimana hadis Rasulullah SAW :
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ أَوْصَانِيْ خَلِيْلِيْe‏  بِثَلاَثٍ بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ فِيْ ‏كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَي الضُّحى وَأَنْ أُوْتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَاُم (رواه البخارى ومسلم)‏
Artinya :“Dari Abu Hurairah ia berkata : kekasihku (Rasulullah) SAW telah berpesan kepadaku tiga hal : Puasa tiga hari pada setiap bulan, dua rakaat salat dhuha, dan salat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tata Cara Pelaksanaannya

Tata cara pelaksanaan salat dhuha sebagai berikut :
  • Jumlah rakaatnya paling sedikit 2 rakaat dan paling banyak 12 rakaat.
  • Boleh dilaksanakan secara munfarid (sendirian) maupun berjamaah.
  • Lebih utama setiap dua rakaat salam. Namun, apabila dilaksanakan empat rakaat jangan ada tasyahud awal supaya tidak menyerupai salat fardu.

Panduan Praktek Shalat Dhuha

1. Berniat salat duha
   Bacaan niatnya apabila diucapkan adalah :
أُصَلِّي سُنَّةَ الضُّحى رَكْعَتَيْنِ للهِ تَعَالى
“Saya berniat salat dhuha dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
2. Takbiratul ihram
3. Salat dua rakaat seperti biasa atau empat rakaat serta tidak ada tahiyat awal pada rakaat kedua.
4. Salam.
Dilanjutkan dengan membaca doa setelah salat dhuha :

اَللّهُمَّ إِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَاؤُكَ وَالْبَهَاءَ بَهَاؤُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالْقُوَّةَ ‏قُوَّتُكَ وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ . اَللّهُمَّ إِنْ كَانَ رِزْقِيْ فِي ‏السَّمَاءِ فَأَنْزِلْهُ وَإِنْ كَانَ فِي الأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا فَيَسِّرْهُ ‏وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَإِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَائِكَ وَبَهَائِكَ ‏وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ أتِنِيْ مَا أتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ.‏
Artinya :
“Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah milik-Mu, keagungan adalah keagunganMu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, kekuasaan adalah kekuasaan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu,. Ya Allah andaikan rizqiku ada di langit maka turunkanlah, bila di bumi maka keluarkanlah, apabila sukar maka mudahkanlah, bila haram maka sucikanlah, bila jauh maka dekatkanlah. Dengan haqnya waktu duha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan-Mu. Berikanlah kepadaku apa yang telah Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang shaleh.”

4.       Salat Tahajud

Salat tahajud merupakan salat lail (salat yang dikerjakan pada malam hari). Shalat ini dilaksanakan pada malam hari untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Orang yang melaksanakan salat tahajud akan mendapatkan berbagai keutamaan di hadapan Allah SWT. Kajilah pembahasan berikut, setelah kamu memahami berlatihlah untuk melaksanakan salat lail ini, karena Rasulullah saw. bersabda :
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ (رواه البخارى ومسلم)    
Artinya : “Allah s.w.t akan turun ke langit dunia setiap malam ketika sepertiga malam yang terakhir, seraya berfirman: Sesiapa yang berdoa kepadaKu, maka Aku akan menerima permintaannya dan sesiapa yang meminta keampunan dariKu maka Aku akan mengampuninya .” (HR. Bukhari dan Muslim)

1.        Pengertian Salat Tahajud

Salat tahajud merupakan salat sunah yang dikerjakan setelah tidur pada malam hari antara waktu salat isya sampai dengan fajar sidiq (menjelang subuh). Namun waktu yang paling utama melaksanakan salat tahajud adalah dua pertiga malam, sekitar pukul 02.00 dini hari.

2.        Hukum Salat Tahajud

Hukum melaksanakan salat tahajud adalah sunah muakkad. Perhatikan Firman Allah berikut ini :
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
Artinya :“ Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al Isra’ : 79)

3.        Tata Cara Pelaksanaannya

Bagi kebanyakan orang melaksanakan salat tahajud terasa berat, namun bagi sebagian yang lain merasa ringan karena sudah terbiasa bangun di malam hari dan melakukan salat tahajud, bahkan mereka merasakan kenikmatan ruhani yang luar biasa setelah melakukan salat tahajud di tengah keheningan malam.
Pada tahap awal, agar kamu mudah dan tidak berat dalam melaksanakan salat tahajud, berdoalah sebelum tidur agar diberi kekuatan untuk bangun di malam hari dan melaksanakan salat tahajud.
Adapun tata cara melaksanakan salat tahajud tidak jauh berbeda dengan salat sunah yang lain, yakni :
a.       Waktu pelaksanaannya setelah salat isya sampai dengan fajar sidiq (menjelang waktu subuh) dan setelah tidur.
b.      Jumlah rakaatnya paling sedikit dua rakat dan paling banyak tidak dibatasi.
c.       Dilaksanakan sendirian (munfarid) atau berjamaah.
d.      Lebih utama setiap dua rakaat salam. Apabila dilaksanakan empat rakaat jangan ada tasyahud awal, sehingga tidak menyerupai salat fardu.

Panduan Praktek Sahalat Tahajud

1.        Berniat salat tahajud
                 ¨   Bacaan niatnya apabila diucapkan adalah :
أُصَلِّي سُنَّةَ التَّهَجُّدِ رَكْعَتَيْنِ للهِ تَعَالى
“Saya berniat salat tahajud dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
2.        Takbiratul ihram
3.        Salat dua rakaat seperti biasa.
4.        Salam.
Perhatikan video berikut ini :

Do'a Iftitah (sumber : www.youtube.com)
Duduk antara 2 sujud (sumber : www.youtube.com)

I'tidal